Langsung ke konten utama

I Miss You


Hi kau...      
Ya kau ....
Aku tahu mungkin ini konyol bagimu tapi kau benar benar terkenang jelas dalam inggatanku, memipikanmu bukanlah hal yang aneh bagiku, entah kenapa 4tahun berlalu tanpa bertemu, aku masih bisa mengingatmu dengan baik, bahkan aku sangat merindukanmu dari semua hal yang ku alami selama 3 tahun itu, hanya kau yang bisa ku ingat hanya kau yang masih saja ku impikan.


Kekonyolanku tak sampai disana, kau tahu aku merasa kita terhubung entahlah aku merasa aneh dengan hatiku sendiri saat memikirkanmu, memimpikanmu, kau lelaki pertama yang menyentuh hatiku, perlakuanmu, hal hal yang kita lalui semuanya berkesan bagiku. Mungkin benar kata orang aku mencintaimu, aku menyayangimu tapi aku tak berani mengakuinya sungguh aku sangat ketakutan saat orang lain menyadarkan ku bahwa aku mencintaimu, aku tahu bagaimana dirimu, aku bukanlah hal yang kau harapkan. Bahkan untuk beranggapan kau masih mengingatku atau tidak sama sekali.



Bisakah aku hidup damai tanpa mengingatmu ? aku benar benar merasakan siksaan batin satu sisi aku ingin bersamamu tapi di satu sisi aku sadar kita tak bisa bersama, sungguh menyedihkan melihatku saat ini, menatap fotomu di salah satu akun media sosialmudan mulai mengenang apa yang kita lalui bersama.



Dari semua yang kita lalui dahulu membuatku berpikir dan mencari jawaban tentang semua perlakuanmu padaku, semua orang akan berpendapat bahwa kau memiliki hal berbeda padaku, aku memang senang mereka berpendapat seperti itu karna memang itu yang ku inginkan tapi aku tak bisa mempercayai mereka sepenuhnya karna hanya kau dan Allah yang tahu apa yang sebernanya terjadi, bagiku kau seperti lukisan abstrak yang tak bisa ku baca, kau benar benar misterius bagiku, atak ada seorang pun yang tahu apa yang sebenarnya terjadi kecuali dirimu sendiri.



Aku sangat merindukanmu benar benar merindukamu, bisakah kita menghabiskan waktu bersama untuk terakhir kalinya, mencari jawaban apa yang sebenarnya terjadi pada kita, aku berharap kau memang jawaban Allah dari semuan do'a do'aku.




For you Mr.....

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Labuhan Harapan

Aku bertemu dia bukan di masa kecilku, padahal kami tumbuh di lingkungan yang sama. Kami berjalan di jalan yang serupa, menghirup udara yang sama, namun waktu tidak pernah mempertemukan kami. Kami baru saling mengenal ketika hidup sudah membawaku menjauh dari tempat itu, lewat layar kecil dan percakapan biasa yang perlahan terasa istimewa. Aku tidak pernah menyangka bahwa wajah yang kini akrab di mataku sebenarnya pernah begitu dekat dengan masa kecilku. Adiknya adalah temanku, keluarganya bukan nama asing, namun dia— selalu luput dari ingatanku, seolah memang tidak ditakdirkan hadir di sana saat itu. Aku mulai merasa tidak asing dengannya bahkan sebelum aku tahu alasannya. Dan ketika benang-benang itu akhirnya terurai, aku hanya bisa heran: bagaimana dua orang bisa sedekat ini, tanpa pernah benar-benar bersinggungan sebelumnya. Aku menaruh perasaan padanya di saat aku merasa lelah dan takut memilih. Dia hadir dengan caranya sendiri— perhatian yang sederhana, kehadiran yang menenangkan...

Almost

 Ada pertemuan yang datang tanpa rencana, tumbuh tanpa janji, dan bertahan tanpa arah yang jelas. Aku bertemu seseorang di fase hidup ketika aku sedang belajar memahami diriku sendiri. Tidak pernah ada kesepakatan tentang apa yang sedang dijalani, namun entah mengapa, kedekatan itu dibiarkan tumbuh lebih lama dari yang seharusnya. Kedekatan itu terasa nyata. Ada percakapan yang mengalir, tawa yang terasa ringan, dan pemikiran yang membuatku merasa dimengerti. Seseorang itu hadir dengan caranya sendiri—cukup dekat untuk membuat nyaman, namun tidak cukup jelas untuk disebut sebagai tujuan. Sebagai perempuan dewasa, aku sadar bahwa perasaan tidak pernah bisa berjalan berdampingan dengan ketidakpastian terlalu lama. Di titik tertentu, aku mulai berharap. Dan bersamaan dengan itu, aku juga mulai lelah. Bukan karena menginginkan terlalu banyak, melainkan karena menunggu sesuatu yang tidak pernah benar-benar dijanjikan. Aku sempat percaya bahwa memahami dan bertahan adalah bentuk kedewasa...

My Sweetnest Sin

I want to feel your skin on mine, not just in passing, but in a slow, deliberate collision Let your hands explore the silence between us, let your breath claim every inch of space I try to hold and Let the world fade away while your heartbeat finds its rhythm against my chest. Pull me closer until the tension breaks into heat, until every touch feels like a confession we’ve both been dying to make.   And I don’t want this fire to be a fleeting spark — I want it to live in us, every single day, steady and undeniable. I want to wake up knowing that the same restless pull still exists, that the same electricity hums beneath our skin whenever our eyes meet. Let our desire be something constant, not loud but deep — a current only we understand. I want to crave you in the quiet mornings and the heavy midnights alike, to feel that familiar rush knowing it’s you who sets my pulse racing. Let this hunger be ours alone, returning again and again, like a promise our bodies remember even befor...