Aku bertemu dia bukan di masa kecilku,
padahal kami tumbuh di lingkungan yang sama.
Kami berjalan di jalan yang serupa,
menghirup udara yang sama,
namun waktu tidak pernah mempertemukan kami.
Kami baru saling mengenal
ketika hidup sudah membawaku menjauh dari tempat itu,
lewat layar kecil dan percakapan biasa
yang perlahan terasa istimewa.
Aku tidak pernah menyangka
bahwa wajah yang kini akrab di mataku
sebenarnya pernah begitu dekat dengan masa kecilku.
Adiknya adalah temanku,
keluarganya bukan nama asing,
namun dia—
selalu luput dari ingatanku,
seolah memang tidak ditakdirkan hadir di sana saat itu.
Aku mulai merasa tidak asing dengannya
bahkan sebelum aku tahu alasannya.
Dan ketika benang-benang itu akhirnya terurai,
aku hanya bisa heran:
bagaimana dua orang bisa sedekat ini,
tanpa pernah benar-benar bersinggungan sebelumnya.
Aku menaruh perasaan padanya
di saat aku merasa lelah dan takut memilih.
Dia hadir dengan caranya sendiri—
perhatian yang sederhana,
kehadiran yang menenangkan,
hal-hal kecil yang tanpa sadar
membuatku berharap lebih.
Lalu dia pergi.
Tanpa penjelasan, tanpa pamit.
Dan aku belajar
bahwa kehilangan tidak selalu datang dengan suara keras—
kadang ia hanya diam,
dan meninggalkan ruang kosong yang lama sembuhnya.
Waktu berlalu dan aku belajar merelakan dalam diam
dengan prasangka bahwa hidupnya sudah berlabuh di tempat lain.
Namun hidup kembali mempermainkan jarak.
Kami bertemu lagi,
dengan versi diri yang sudah berubah.
Dia masih menyimpan nomorku,
dan aku masih menyimpan rasa yang belum selesai.
Kini kami berdiri di tempat yang sulit dinamai.
Ada rasa, ada perhatian, ada kenyamanan.
Tapi tidak ada kepastian.
Aku tidak tahu
apakah dia dihadirkan Tuhan
sebagai pelabuhan atau sekadar persinggahan.
Yang aku tahu,
bersamanya aku belajar bahwa aku masih bisa berharap,
dan tanpanya aku belajar
bahwa aku harus tetap memilih diriku sendiri.
Jika suatu hari aku harus melepaskannya,
aku ingin melakukannya tanpa benci.
Karena dia pernah menjadi rumah sementara
di saat hatiku paling rapuh.
Dan mungkin,
itu sudah cukup sebagai makna.
Ada pertemuan yang datang tanpa rencana, tumbuh tanpa janji, dan bertahan tanpa arah yang jelas. Aku bertemu seseorang di fase hidup ketika aku sedang belajar memahami diriku sendiri. Tidak pernah ada kesepakatan tentang apa yang sedang dijalani, namun entah mengapa, kedekatan itu dibiarkan tumbuh lebih lama dari yang seharusnya. Kedekatan itu terasa nyata. Ada percakapan yang mengalir, tawa yang terasa ringan, dan pemikiran yang membuatku merasa dimengerti. Seseorang itu hadir dengan caranya sendiri—cukup dekat untuk membuat nyaman, namun tidak cukup jelas untuk disebut sebagai tujuan. Sebagai perempuan dewasa, aku sadar bahwa perasaan tidak pernah bisa berjalan berdampingan dengan ketidakpastian terlalu lama. Di titik tertentu, aku mulai berharap. Dan bersamaan dengan itu, aku juga mulai lelah. Bukan karena menginginkan terlalu banyak, melainkan karena menunggu sesuatu yang tidak pernah benar-benar dijanjikan. Aku sempat percaya bahwa memahami dan bertahan adalah bentuk kedewasa...
Komentar
Posting Komentar