Langsung ke konten utama

Hujan

Hujan…
Ingin ku rentangkan kedua tanganku menikmati guyuran hujan, ku pejamkan mata tenangkan diriku menikmati setiap tetesan hujan yang jatuh di wajahku, aku tersenyum membayangkanmu, ku ingat semua tingkah lakumu, ku bayangkan kau lebih jauh, dia hadir di tepat di belakangku, tanganmu melingkar di pinggangku, mendekapku, menarik ku lebih dalam kedalam dekapanmu, mata ku masih terpejam, merasakan wangi tubuhnya, wangi yang ku rindukan, aku menyukai parfume yang dia gunakan.


“Apa yang kau lakukan?” tanyanya padaku.


“Aku merindukanmu”


“Benarkah itu ?”


“Ya, setiap waktu yang ku punya kau selalu terbayang di benakku, aku tak bisa menghilangkanmu dari pikiranku”



Tiba tiba seorang teman meneriakiku, ternyata aku terlalu menikmati hujan tanpa menyadari aku benar benar sudah basah kuyup karna guyuran hujan, ku dekap tubuhku sendiri merasakan dingin yang luar biasa, tanganku melingkar di pinggang tempatnya melingkarkan tangan saat mendekatku. Kerinduanku padanya membuat ku benar benar gila mengharapakan dia ada di sampingku, mendekapku dengan semua kasih sayang tulus yang dia punya. Dapakah kau rasakan itu aku begitu tersiksa dengan rindu ini, namu selalu ku sebut dalam do’aku karna dengan cara itu aku benar benar bisa mendekapmu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Labuhan Harapan

Aku bertemu dia bukan di masa kecilku, padahal kami tumbuh di lingkungan yang sama. Kami berjalan di jalan yang serupa, menghirup udara yang sama, namun waktu tidak pernah mempertemukan kami. Kami baru saling mengenal ketika hidup sudah membawaku menjauh dari tempat itu, lewat layar kecil dan percakapan biasa yang perlahan terasa istimewa. Aku tidak pernah menyangka bahwa wajah yang kini akrab di mataku sebenarnya pernah begitu dekat dengan masa kecilku. Adiknya adalah temanku, keluarganya bukan nama asing, namun dia— selalu luput dari ingatanku, seolah memang tidak ditakdirkan hadir di sana saat itu. Aku mulai merasa tidak asing dengannya bahkan sebelum aku tahu alasannya. Dan ketika benang-benang itu akhirnya terurai, aku hanya bisa heran: bagaimana dua orang bisa sedekat ini, tanpa pernah benar-benar bersinggungan sebelumnya. Aku menaruh perasaan padanya di saat aku merasa lelah dan takut memilih. Dia hadir dengan caranya sendiri— perhatian yang sederhana, kehadiran yang menenangkan...

Almost

 Ada pertemuan yang datang tanpa rencana, tumbuh tanpa janji, dan bertahan tanpa arah yang jelas. Aku bertemu seseorang di fase hidup ketika aku sedang belajar memahami diriku sendiri. Tidak pernah ada kesepakatan tentang apa yang sedang dijalani, namun entah mengapa, kedekatan itu dibiarkan tumbuh lebih lama dari yang seharusnya. Kedekatan itu terasa nyata. Ada percakapan yang mengalir, tawa yang terasa ringan, dan pemikiran yang membuatku merasa dimengerti. Seseorang itu hadir dengan caranya sendiri—cukup dekat untuk membuat nyaman, namun tidak cukup jelas untuk disebut sebagai tujuan. Sebagai perempuan dewasa, aku sadar bahwa perasaan tidak pernah bisa berjalan berdampingan dengan ketidakpastian terlalu lama. Di titik tertentu, aku mulai berharap. Dan bersamaan dengan itu, aku juga mulai lelah. Bukan karena menginginkan terlalu banyak, melainkan karena menunggu sesuatu yang tidak pernah benar-benar dijanjikan. Aku sempat percaya bahwa memahami dan bertahan adalah bentuk kedewasa...

My Sweetnest Sin

I want to feel your skin on mine, not just in passing, but in a slow, deliberate collision Let your hands explore the silence between us, let your breath claim every inch of space I try to hold and Let the world fade away while your heartbeat finds its rhythm against my chest. Pull me closer until the tension breaks into heat, until every touch feels like a confession we’ve both been dying to make.   And I don’t want this fire to be a fleeting spark — I want it to live in us, every single day, steady and undeniable. I want to wake up knowing that the same restless pull still exists, that the same electricity hums beneath our skin whenever our eyes meet. Let our desire be something constant, not loud but deep — a current only we understand. I want to crave you in the quiet mornings and the heavy midnights alike, to feel that familiar rush knowing it’s you who sets my pulse racing. Let this hunger be ours alone, returning again and again, like a promise our bodies remember even befor...