Langsung ke konten utama

Ocehan ku



Strong Love
Miss Arianti

Cinta sejati. Dua kata yang sulit untuk mengartikannya, setiap orang memliki arti yang berbeda tentang kedua kata itu tapi bagiku cinta sejati adalah cinta yang tulus, dapat menerima pasangannya apa adanya tanpa mengharapkan imbalan yang lebih hanya mengharapkan bahwa orang yang dicintainya bahagia entah itu bersamannya atau bersama orang lain.

Kekuatan cinta sejati pun tak perlu di ragukan bukan karna kata itu yang sakti tapi dua kata itu memberi sugesti memberikan semangat bagi orang yang meraskannya memberikan alasan untuknya hidup, semua manusia di dunia pasti mengharapkan cinta sejati seperti itu. Kuat, tulus, dan menjanjikan kebahagiaan. Tapi apakah cinta sejati seperti di dongeng dongen ada di dunia nyata ? persepsi orang tentang cinta sejati memang bebeda beda mereka pasti pernah merasakannya.

Hari ini setelah menonton kembali film “Assalamualaikum Beijing”  aku belajar, belajar akan banyak hal yang awalnya tak pernah ku temukan dimana pun, belajara tentang cinta, sebuah cinta sejati yang tulus tanpa pamrih, tanpa mengharapkan apapun hanya kebahagian pasangannya yang ia inginkan, belajar tentang cinta yang sempurna tanpa harus memiliki fisik yang sempurna.

Pria yang di butuhkan seorang muslimah adalah pria yang bisa menuntunnya, membimbingnya, menjadi imam yang baik untuk keluarganya, berjalan bersama menuju surgaNya, seorang pria yang menggenggam tangannya saat dunia mulai menjauhinya saat dunia merasa sangat kejam baginya, dari film itu aku pun belajar seberat apupun masalah yang kita hadapi jika kita menjalaninya dengan sesorang yang kita cintai, berdo’a bersama mempasrahkan diri pada kehendakNya semuanya terasa ringan, tampak mudah, sungguh melegakan hati.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Labuhan Harapan

Aku bertemu dia bukan di masa kecilku, padahal kami tumbuh di lingkungan yang sama. Kami berjalan di jalan yang serupa, menghirup udara yang sama, namun waktu tidak pernah mempertemukan kami. Kami baru saling mengenal ketika hidup sudah membawaku menjauh dari tempat itu, lewat layar kecil dan percakapan biasa yang perlahan terasa istimewa. Aku tidak pernah menyangka bahwa wajah yang kini akrab di mataku sebenarnya pernah begitu dekat dengan masa kecilku. Adiknya adalah temanku, keluarganya bukan nama asing, namun dia— selalu luput dari ingatanku, seolah memang tidak ditakdirkan hadir di sana saat itu. Aku mulai merasa tidak asing dengannya bahkan sebelum aku tahu alasannya. Dan ketika benang-benang itu akhirnya terurai, aku hanya bisa heran: bagaimana dua orang bisa sedekat ini, tanpa pernah benar-benar bersinggungan sebelumnya. Aku menaruh perasaan padanya di saat aku merasa lelah dan takut memilih. Dia hadir dengan caranya sendiri— perhatian yang sederhana, kehadiran yang menenangkan...

Almost

 Ada pertemuan yang datang tanpa rencana, tumbuh tanpa janji, dan bertahan tanpa arah yang jelas. Aku bertemu seseorang di fase hidup ketika aku sedang belajar memahami diriku sendiri. Tidak pernah ada kesepakatan tentang apa yang sedang dijalani, namun entah mengapa, kedekatan itu dibiarkan tumbuh lebih lama dari yang seharusnya. Kedekatan itu terasa nyata. Ada percakapan yang mengalir, tawa yang terasa ringan, dan pemikiran yang membuatku merasa dimengerti. Seseorang itu hadir dengan caranya sendiri—cukup dekat untuk membuat nyaman, namun tidak cukup jelas untuk disebut sebagai tujuan. Sebagai perempuan dewasa, aku sadar bahwa perasaan tidak pernah bisa berjalan berdampingan dengan ketidakpastian terlalu lama. Di titik tertentu, aku mulai berharap. Dan bersamaan dengan itu, aku juga mulai lelah. Bukan karena menginginkan terlalu banyak, melainkan karena menunggu sesuatu yang tidak pernah benar-benar dijanjikan. Aku sempat percaya bahwa memahami dan bertahan adalah bentuk kedewasa...

My Sweetnest Sin

I want to feel your skin on mine, not just in passing, but in a slow, deliberate collision Let your hands explore the silence between us, let your breath claim every inch of space I try to hold and Let the world fade away while your heartbeat finds its rhythm against my chest. Pull me closer until the tension breaks into heat, until every touch feels like a confession we’ve both been dying to make.   And I don’t want this fire to be a fleeting spark — I want it to live in us, every single day, steady and undeniable. I want to wake up knowing that the same restless pull still exists, that the same electricity hums beneath our skin whenever our eyes meet. Let our desire be something constant, not loud but deep — a current only we understand. I want to crave you in the quiet mornings and the heavy midnights alike, to feel that familiar rush knowing it’s you who sets my pulse racing. Let this hunger be ours alone, returning again and again, like a promise our bodies remember even befor...